Selasa, 25 September 2012
Pulau Derawan
Pulau derawan adalah surga tropis yang sempurna.
Suasana di sini hangat dengan pemandangan pasir pantai putih halus,
pohon palem yang melambai-lambai, laut murni yang berubah warna dari
hijau ke biru gelap. Kehidupan bawah laut di sini luar biasa, Anda akan
temukan kura-kura raksasa, lumba-lumba, ikan pari, duyung dan barakuda,
ubur-ubur stingless. Ikan Hiu Derawan di sini merupakan salah satu
keragaman hayati di dunia. Tak heran, pulau Derawan dikenal sebagai
tujuan wisata menyelam terbaik di dunia.
Disinilah Anda dapat menemukan 460 jenis karang dan menempati posisi kedua setelah Raja Ampat di Papua Barat. Pengurus tempat konserfasi dan tim ahli internasional juga menemukan lebih dari 870 jenis ikan
di sini, mulai dari kuda laut kerdil hingga pari manta raksasa. Dalam
beberapa hari, sekelompok pari manta ini dalam jumlah yang banyak
sekitar 50 ekor terlihat makan bersama di perairan Derawan.
Sementara di Kakaban, Anda dapat menemukan danau ubur-ubur terbesar dan paling beragam di dunia, termasuk empat spesies unik ubur-ubur stingless yang dapat berenang terbalik. Inilah alasanya mengapa Kakaban dipertimbangkan menjadi nominasi Situs Warisan Dunia UNESCO.
Referensi : http://www.indonesia.travel/id/destination/430/kepulauan-derawan
Referensi : http://www.indonesia.travel/id/destination/430/kepulauan-derawan
Tana Toraja
Tana Toraja Andalan Wisata Sulawesi Selatan
Raja Ampat
RAJA AMPAT YANG MEMPESONA
Teriknya matahari dan cerahnya udara justru membuat gemas para tamu untuk kembali menyelam dan menyelam. Cahaya matahari kerap menembus celah-celah gelombang laut sampai ke karang. Keelokan pemandangan dan biota lautnya memang membuat kesan mendalam bagi para wisatawan. Bagi pencinta wisata pesisir dan bawah air yang fanatik, Raja Ampat sangat dikenal bahkan dinilai terbaik di dunia untuk kualitas terumbu karangnya.
Banyak fotografer bawah laut internasional mengabadikan pesona laut Raja Ampat. Bahkan ada yang datang berulang kali dan membuat buku khusus tentang keindahan terumbu karang dan biota laut kawasan ini. Pertengahan 2006 lalu, tim khusus dari majalah petualangan ilmiah terkemuka dunia, National Geographic, membuat liputan di Raja Ampat yang akan menjadi laporan utama pada 2007.
Sejumlah turis tampak asyik bersantap dan mengobrol santai sambil memandang lepas ke arah laut yang didominasi warna biru, hijau, dan putih. Warna-warna itu muncul karena pengaruh dari hamparan terumbu karang di dasar laut yang dangkal maupun dalam. Mereka sedang menikmati makan siang di Papua Diving Resort, perairan f Irian Jaya Barat.
SUNSET YANG EKSOTIS

Suku Baduy
ADAT DAN BUDAYA SUKU BADUY
"Ketaatan Suku Baduy Terhadap Adat Mereka"
Mereka mandiri, menolak bantuan luar, merajut, bertanam dan berpikir ke depan dengan otak jernih, jujur dan tulus. Tidak ada keributan sesama mereka di sana. Tak ada saling iri, dengki dan culas di tengah mereka.
Suku Baduy adalah kelompok kehidupan yang begitu patuh pada adat, ritual dan agama yang mereka anut. Nama masyarakat Baduy sebenarnya adalah URANG KENEKES. Mereka adalah suku bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di Pegunungan Kendeng Kabupaten Lebak (Jawa Barat). Nama Baduy sendiri diambil dari nama sungai yang melewati wilayah itu yaitu Sungai Cibaduy.
Mereka adalah keturunan Raja Pajajaran yang menolak agama baru yang masuk dibawa oleh Sunan Gunung Jati di abad 15 dan 16 yaitu agama Islam. Untuk menghindari perang, para punggawa dan senopati Pajajaran yang menolak Sunan Gunung Jati masuk hutan. Mereka memilih daerah perbukitan di kaki gunung Sanggabuana, 1000 mdpl di Banten Selatan. Mereka menolak masuk Islam dan menolak jadi pengikut Sunan Gunung Jati. Di sana mereka terus mengembangkan agama lama mereka di dalam belantara yang sulit diterobos.
Orang Baduy pertama-tama memuja lelembut, yaitu roh halus, roh gaib yang dianggap sebagai nenek moyang pemberi hidup dan mati. Roh itu adalah yang menjiwai segala-galanya. Sebagai pemegang kekuasaan tunggal yang disebut Batara Tunggal. Tempat kediaman lelembut adalah di dekat mata air sungai Ciujung dan Sungai Cisemet. Tempat keramat tersebut dipuja-puja dan dinamakan Arca Domas. Tempat pemujaan ini hingga sekarang sangat terlarang bagi orang luar.
Kawah Papandayan
Kawah Papandayan - Objek Wisata Garut
Kawah Papandayan merupakan salahsatu dari beberapa tempat wisata yang ada di daerah Garut,Jawa Barat yang mernarik untuk dikunjungi.Objek wisata ini diperkirakan terletak antara 28 KM sebelah barat daya dari Kota Garut.Gunung papandayan merupakan sebuah gunung berapi yang hingga kini masih aktif.Menurut catatan sejerah,Gunung ini pertama meletus pada bulan Agustus tahun 1997 lalu,pada saat itu Gunung yang statusnya masih aktip ini memuntahkan berkubik‐kubik material beberapa kilometer ke udara, dengan menelan korban sebanyak 3000 orang dan menimbun 40 desa disekitar gunung berapi tersebut. Tinggi Gunung Papandayan yaitu 2.665 dpl.


Suatu pengalaman yang sangat luar biasa dan rasanya ingin segera ingin melakukannya lagi adalah ketika mencoba menelusuri objek wisata gunung merapi itu,. Kawah mas adalah salah satu kawah yang terdapat di kawah itu yang terletak ditengah kubah dengan sekitar 150 meter. Kawah itu bergemuruh seakan suaranya menyerupai suara mesin Jet. Diperlukan waktu skurang lebih duapuluh menit dengan berjalan kaki untuk menuju ke tengah‐tengah kawah dari area parker. Jumlah Kawah Papandayan ada 14 buah, setiap kawah mengeluarkan asap yang berbeda‐beda, ada yang berwarna putih,ada juga yang berwarna emas.

Ketika kita berada dipuncak kawah,kita bisa menyaksikan sebuah pemandangan yang indah yaitu belerang yan keluar dari mulut kawah.Udaranya yang terasa cukup panas jika kita sedang berada disekitar kawah. Keindahan Kawah Papandayan yang dapat dinikmati dari dekat serta keindahan hamparan bunga Eidelweiss (anaphalis javanica). Dengan suasana sejuk alam pegunungan. Untuk sementara orang bahwa air yang ada di sekitar kawah bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit kulit yang mujarab.
Kepulauan Seribu
Kepulauan Seribu - Tempat Wisata Jakarta
Kepulauan Seribu - Tempat Wisata Jakarta : Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu adalah sebuah kabupaten administrasi di Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia. Wilayahnya meliputi gugusan kepulauan di Teluk Jakarta. Kepulauan Seribu ditetapkan menjadi Taman Nasional Laut dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 162/Kpts-II/1995 dan No. 6310/Kpts-II/2002 yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu, Departemen Kehutanan.

PAMERAN FLORA DAN FAUNA TAHUN 2011
Pameran Flora Fauna merupakan kegiatan pameran rutin yang dilaksanakan oleh Pemerintah Propinsi DKI Jakarta setiap tahun. Pameran ini diadakan dalam rangka menyambut dan merayakan ulang tahun ibu kota Jakarta yang jatuh pada bulan tepatnya setiap tanggal 2 serta dirgahayu Republik Indonesia yang ke
Pameran kali ini diselenggarakan mulai tanggal 21 Juni 2011 sampai dengan 20 Juli 2011 bertempat di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Diikuti oleh 350 peserta yang terdiri dari stand instansi pemerintah dan berbagai pelaku bisnis seperti petani tanaman hias, petani tanaman buah, pengusaha agribisnis, pengusaha lansekap, maupun peternak dan pedagang hewan peliharaan (petshop).
Pameran Flora dan Fauna yang sudah berlangsung ke 26 kalinya ini dipandang sangat efektif sebagai media promosi yang bernuansa penghijauan yang diselaraskan dengan upaya Pemerintah Propinsi DKI untuk membangun wajah Kota Jakarta yang hijau, indah, sehat dan berwawasan lingkungan. Pada tahun 2011 ini Pameran Flora Fauna mengusung tema “Pohon, Dia Ada Jakarta Makin Dicinta”.
Sebagai salah satu instansi pemerintah yang erat hubungannya di bidang lingkungan, Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu yang berada dibawah naungan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Kementerian Kehutanan selalu turut berpartisipasi menyukseskan acara ini dengan ikut membangun stand konservasi setiap tahunnya.
Pada kesempatan ini Balai TN. Kepulauan Seribu menampilkan stand dengan bangunan berupa saung, didalamnya disajikan beragam informasi seputar ekowisata bahari dan program/kegiatan konservasi yang telah dilaksanakan oleh Taman Nasional Kepulauan Seribu seperti transplantsi mangrove, penanaman mangrove, pelestarian elang bondol dan elang laut. Media yang digunakan sebagai bahan promosi dan edukasi bagi pengunjung antara lain leaflet, booklet, foto-foto, layar sentuh dan video. Layar sentuh Taman Nasional Kepulauan Seribu yang berbentuk penyu besar ini tampaknya menjadi ikon yang menjadai daya tarik sendiri bagi para pengunjung khususnya untuk anak-anak.
Pengunjung yang datang ke stand Balai Taman NasionaL Kepulauan Seribu sangat beragam, mulai anak-anak, ibu rumah tangga, pelajar, mahasiswa, PNS, pegawai swasta, peneliti bahkan wisatawan mancanegara. Dimana hampir sebagian besar pengunjung lebih banyak menanyakan aksesibilitas ke Kepulauan Seribu, fasilitas dan jenis-jenis atraksi wisata yang dapat dilakukan di TN. Kepulauan Seribu.
Dengan adanya stand ini Balai TN. Kepulauan Seribu berharap bisa lebih dekat dengan masyarakat, sehingga mereka dapat mengenal gambaran Taman Nasional Kepulauan Seribu sebagai satu-satunya Taman Nasional yang berada di wilayah Ibu Kota negara yang memiliki berbagai keanekaragaman hayati yang harus dijaga dan didukung pelestariannya.
PENILAIAN POTENSI TERUMBU KARANG TAHUN 2011
Taman Nasional Kepulauan Seribu yang terdiri dari 78 gugusan kepulauan dan memiliki luasan kawasan sekitar 107.489 Ha, tercatat memiliki berbagai macam potensi dan keanekaragaman hayati antara lain penyu sisik, terumbu karang, mangrove serta lamun.
Salah satu tugas yang diemban oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu sebagai pengelola adalah melakukan pengelolaan ekosistem kawasan taman nasional dalam rangka konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya serta pengelolaan kawasan taman nasional berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karenanya dalam rangka mewujudkan perlindungan dan konservasi sumber daya alam terumbu karang yang ada dikawasan, setiap dua tahun sekali Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu berupaya melakukan pengamatan intensif terhadap ekosistem karang yang ada melalui kegiatan Penilaian Potensi Terumbu Karang.
Sebagaimana periodik yang telah ditetapkan, maka pada tahun 2011 ini dilaksanakan kembali Kegiatan Penilaian Potensi Terumbu Karang. Seperti penyelenggaraan sebelumnya, kegiatan ini dilaksanakan bekerjasama dengan Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI ) sebagai salah satu mitra Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kerjasama dengan TERANGI pada kesempatan ini mulai difokuskan dalam hal peningkatan kapasitas sumber daya manusia untuk melakukan ‘refreshment’ bagi para staf Balai TN. Kepulauan Seribu yang terlibat sebagai tim pelaksana melalui in house training yang kemudian dilanjutkan dengan praktek dilokasi untuk mempraktekkan langsung pemahaman dan penguasaan materi yang telah dipaparkan.
Diakui bahwa gangguan terhadap keberadaan serta kelestarian ekosistem terumbu karang semakin meningkat, tidak hanya akibat perilaku manusia namun juga seiring kondisi lingkungan yang mengalami penurunan kualitas. Oleh karenanya kegiatan ini juga memiliki manfaat penting dimana bisa memberikan gambaran kondisi terumbu karang di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu, agar muncul langkah-langkah nyata dan simultan untuk dapat melindungi dan menjaga sumber daya yang ada.
Pada tahun 2011, terdapat 40 lokasi pengamatan yang menjadi titik pengamatan yang tersebar di beberapa wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional yang termasuk dalam zona inti, zona perlindungan, zona pemanfaatan wisata dan zona pemukiman. Hasil data yang diperoleh nantinya adalah berupa data ekosistem terumbu karang dimana selain tutupan dan kondisi karang juga data lain seperti ikan,makrobenthos, lamun dan kualitas air. Metode yang digunakan dalam melaksanakan pengambilan data adalah metode visual sensus yaitu Line Intercept Transect, Belt Transect dan Quadrate Transect.
Data yang telah diperoleh dari lapangan, pada saat ini akan segera diproses dan dianalisa oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu dan TERANGI untuk kemudian disajikan dalam bentuk laporan sebagai hasil akhir dari pelaksanaan Kegiatan Penilaian Potensi Terumbu Karang di Taman Nasional Kepulauan Seribu yang selanjutnya dapat menjadi data base dan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan untuk melaksanakan pengelolaan ekosistem terumbu karang di TN. Kepulauan Seribu.
Harga Tiket Masuk :
Mancanegara Rp. 20.000,-/org
Domestik Rp. 2.500,-/org
CURUG CIGANGSA - SURADE
CURUG CIGANGSA - SURADE
Curug Cigangsa terdiri dari dua tingkat dan diperkirakan terbentuk akibat gempa yang cukup kuat sehingga mengakibatkan longsor. Curug ini memiliki debit air yang kecil, hal ini dikarenakan di bagian hulunya dibendung untuk keperluan irigasi. Keunikan Curug Cigangsa adalah dinding batunya berwarna kehitaman sebagai landasan air mengalir. Disekitar lokasi ini terdapat sebuah batu. Batu ini oleh masyarakat setempat menyebutnya dengan batu Masigit, atau Batu Masjid, barangkali karena bentuknya. Di Curug Cigangsa ini pengunjung dapat menikmati keindahan curug dari dua arah, yaitu dari atas dan bawah.
Nama Gangsa ini diambil dari nama orang Eyang Gangsa
Selain itu juga tempat ini semasa penjajahan Belanda kerap kali dijadikan tempat persembunyian para pejuang.
Di kawasan ini juga terdapat Curug Ciruti yang mana membutuhkan waktu sekitar 1/2 jam perjalanan dari Curug Cigangsa.
Lokasi
Terletak di Desa Batusuhunan/Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.
Peta dan Koordinat GPS: 7° 19' 35.36" S 106° 32' 35.54"
Aksesbilitas
Berjarak sekitar 110 Km kearah selatan kota Sukabum atau 1 km dari kecamatan Surade. Jika dari Curug Cikaso sekitar hanya 10 km dengan memakan waktu sekitar ± 30 menit dengan berjalan kaki. Untuk mencapai lokasi ini cukup sulit karena harus melewati jalan setapak yang jalanannya cukup menantang dan menyebrangi sungai yang airnya cukup deras.
Curug Cigangsa dapat ditempuh melalui pertigaan tugu kota Surade. Untuk sampai ke lokasi, tidak ada tanda arah sama sekali. Kendaraan berhenti dan diparkir di salah satu rumah warga. Selanjutnya ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri pematang sawah dan menyeberangi sungai menuju lokasi curug dengan waktu tempuh sekitar 10 menit sampai di bagian atas Curug Cigangsa. Bila ingin menikmati keindahannya dari bawah tebing harus menuruni lereng yang cukup curam dengan kondisi jalan yang licin dan becek. Waktu yang dibutuhkan untuk turun ke bawah sekitar 20 menit
Nama Gangsa ini diambil dari nama orang Eyang Gangsa
Selain itu juga tempat ini semasa penjajahan Belanda kerap kali dijadikan tempat persembunyian para pejuang.
Di kawasan ini juga terdapat Curug Ciruti yang mana membutuhkan waktu sekitar 1/2 jam perjalanan dari Curug Cigangsa.
Lokasi
Terletak di Desa Batusuhunan/Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.
Peta dan Koordinat GPS: 7° 19' 35.36" S 106° 32' 35.54"
Aksesbilitas
Berjarak sekitar 110 Km kearah selatan kota Sukabum atau 1 km dari kecamatan Surade. Jika dari Curug Cikaso sekitar hanya 10 km dengan memakan waktu sekitar ± 30 menit dengan berjalan kaki. Untuk mencapai lokasi ini cukup sulit karena harus melewati jalan setapak yang jalanannya cukup menantang dan menyebrangi sungai yang airnya cukup deras.
Curug Cigangsa dapat ditempuh melalui pertigaan tugu kota Surade. Untuk sampai ke lokasi, tidak ada tanda arah sama sekali. Kendaraan berhenti dan diparkir di salah satu rumah warga. Selanjutnya ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri pematang sawah dan menyeberangi sungai menuju lokasi curug dengan waktu tempuh sekitar 10 menit sampai di bagian atas Curug Cigangsa. Bila ingin menikmati keindahannya dari bawah tebing harus menuruni lereng yang cukup curam dengan kondisi jalan yang licin dan becek. Waktu yang dibutuhkan untuk turun ke bawah sekitar 20 menit
Langganan:
Komentar (Atom)